How long does it take to read Laskar Pelangi?
Laskar Pelangi by Andrea Hirata takes about 9 hours 47 minutes to read at 250 words a minute.
Part of Laskar Pelangi Trilogy
Next: Sang Pemimpi
About 9 hours 47 minutes
A week or two of reading
First published 2005. 534 pages, about 146,850 words.
20 days at 30 minutes a day
Estimate based on 275 words per page.
At other speeds
| Slow, 150 words a minute | 16 hours 19 minutes |
| Average, 250 words a minute | 9 hours 47 minutes |
| Fast, 400 words a minute | 6 hours 7 minutes |
The page count is the median across 1 edition, so your copy may differ. How we calculate.
About the book
“Laskar Pelangi adalah ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.” —Sapardi Djoko Darmono - Sastrawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universita Indonesia “Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, novel Laskar Pelangi adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh.” —Garin Nugroho - Sineas “Saya sangat mengagumi Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata. Novel ini menunjukkan pada kita bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan, apabila diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya.” —Kak Seto - Ketua Komnas Perlindungan Anak “Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andrea menulis sebuah novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.” —Arwin Rasyid - Dirut Telkom dan dosen FE-UI “Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang] dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Sebagai penyakit sosial kemiskinan harus diperangi dengn metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi.” —Korrie Layun Rampan - Sastrawan dan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota…
Subjects: Roman, Indonesia, Education, Poverty, Friendship, Resilience